Museum Affandi; Tempat Berburu Lukisan-lukisan Langka dan Bersejarah

Daerah Istimewa Yoyakarta merupakan salah satu provinsi yang menyimpan sejarah berharga Bangsa Indonesia, sejarah-sejarah tersebut banyak tersimpan di dalam museum-museum maupun cagar-cagar budaya yang tersebar di berbagai daerahnya. Salah satu museum yang cukup bernilai dan memiliki sejarah penting yang menarik untuk kamu pelajari, atau sekadar untuk mengetahuinya adalah Museum Affandi. Museum ini berdiri di atas lahan yang luasnya sekitar 3.500 meter persegi, di dekat museumnya terdapat tempat tinggal seniman Affandi sendiri, namun kini tempat tersebut digunakan sebagai cafe untuk pengunjung-pengunjung yang datang.

Bagi yang masih asing siapa itu Affandi, sampai-sampai dibuatkan museum khusus untuknya, dia adalah maestro lukis yang dimiliki Negara Indonesia. Seni lukisnya beraliran ekspresionisme maupun abstrak, selain dedikasi tinggi yang ia tuangkan kepada dunia lukis dia juga seorang penulis handal dan dihargai tulisan-tulisannya. Bagi yang sudah familiar dengan ketokohan Affandi ini, pasti kamu sudah tahu bahwa pipa cerutu merupakan benda yang tidak bisa dilepaskan dari aktifitas kesehariannya. Ia lahir di Cirebon pada tahun 1907. Musseum Affandi berdiri pada tahun 1974, walaupun sebenarnya sudah ada sejak tahun 1962, tetapi statusnya hanya sebatas galeri saja.

Jika kamu mengunjungi museum ini, kamu dapat menemukan empat galeri di dalamya. Beberapa di antaranya yaitu, di galeri pertama terdapat karya-karya seni Affandi dari awal ia berkarir hingga karya terakhirnya, dari bentuknya yang klasik sampai modern, selain karya-karya seninya terdapat juga benda-benda pribadi miliknya, ada sepeda onthel, ember, sandal jepit, kliping berita, mobil sedan kuno dan masih banyak lagi.

Pada galeri kedua awalnya digunakan untuk memamerkan lukisan Affandi untuk dijual, dalam perkembangannya galeri ini juga digunakan sebagai ruang pameran koleksi karya pelukis lain, dan tempat-tempat galeri lainnya. Museum Affandi ini baru diresmikan oleh Prof Ida Bagus Mantra pada tahun 1974, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Kebudayaan Umum. Selain sebagai pelukis, sepanjang hidupnya Affandi mendedikasikan diri sebagai seorang penulis yang menganut aliran ekspresionisme atau abstarak.