Mengunjungi Makam Raja-Raja, Mengunjungi Sejarah

Bila kamu seorang penyuka wisata ziarah, kamu pasti akrab dengan objek wisata yang satu ini. Atau bila kamu belum pernah mendengarnya, objek wisata ini harus ada dalam daftar kunjunganmu selanjutnya.

Makam Raja-Raja Imogiri adalah kompleks makam Raja-Raja Mataram Islam beserta keturunannya, yaitu raja-raja yang bertahta di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Mau tahu apa saja yang ada di dalamnya? Simak ulasan kami.

Area pemakaman ini, termasuk raja-raja era Kraton Yogyakarta dan Surakarta, sejatinya punya sejarah panjang. Makam ini dibangun sejak masa Sultan Agung, pemimpin terbesar Kesultanan Mataram Islam. Hal ini dijelaskan dalam buku Jejak Masa Lalu: Sejuta Warisan Budaya (2004) suntingan Arwan Tuti Artha dan ‎Heddy Shri Ahimsa Putra.

Dalam buku itu diceritakan makam raja-raja Mataram yang berada di puncak bukit dibangun atas gagasan Sultan Agung (1613-1645). Bukit ini dinamakan Pajimatan Girirejo, terletak di Bantul, arah selatan Kota Yogyakarta, tak jauh dari pantai selatan. Pembangunan kompleks makam raja-raja di Imogiri ini dimulai pada 1632, atau memasuki dekade kedua era Sultan Agung.

Pusat pemerintahan Kesultanan Mataram Islam kala itu berada di Kotagede, dekat pusat Kota Yogyakarta sekarang.Sebelum dibangunnya kompleks makam raja-raja di Imogiri, Sultan Agung sebenarnya sudah merencanakan area pemakaman khusus yang dinamakan Girilaya.

Perancangnya adalah paman sultan yang bernama Panembahan Juminah, salah satu putra Sutawijaya alias Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram Islam.Namun, tidak berselang lama proses pembangunan makam itu dihentikan sementara karena Panembahan Juminah wafat.

Bila kamu masuk gapura Supit Urang dengan desain arsitekturnya Jawa dengan warna batu bata merah, di sebelah kanan terdapat bangsal tempat para Abdi Dalem Keraton Surakarta, sebelah kiri bangsal Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Bangsal Surakarta agak lebih tinggi bangunannya karena di dalam silsilah, Surakarta memiliki posisi yang lebih tinggi. Lalu lebih ke dalam menuju pintu gerbang utama dan tembok makam terdapat 4 buah padasan (gentong besar) pusaka yang dulunya didapat Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma dari berkunjung ke kerajaan-kerajaan sahabatnya di antaranya Turki dan Syam. Padasan ini dicuci dan diisi air setahun sekali di bulan Muharram atau Suro. Dulunya air padasan ini digunakan untuk wudhu raja ketiga Mataram sebelum berangkat salat Jumat di Mekah.

“Sekarang dikeramatkan di situ. Untuk siapa yang percaya bahwa itu suatu gentong yang keramat, air yang masuk di situ adalah air yang banyak barokahnya,” Ujar seorang pemandu wisata Bardo yang kami temui di bangsal Surakarta.

Untuk mencapai sini, bila dari Terminal Giwangan Yogyakarta, ambil Jalan Imogiri Timur, kemudian, Jalan Pramuka, terus ke Jalan Giriloyo, lalu Pertigaan Belok Kiri, maka sampailah kamu di Makam Raja-Raja Imogiri