Menelusuri Jejak Sejarah Kemerdekaan Indonesia di Museum Perjuangan Yogyakarta

Museum Perjuangan ini mulai dibangun pada 17 Agustus 1959 dengan peletakkan batu bertama oleh Sri Paku Alam VIII di halaman Ndalem Brontokusuman, Yogyakarta. Mulanya, museum ini lahir dari keinginan para bapak bangsa untuk mengenang peristiwa bersejarah yakni Hari Kebangkitan Nasional, yang diprakarsai oleh Dr.Sutomo pada tanggal 20 Mei tahun 1908. Tujuan utama didirkannya museum ini pun semata untuk mengenang perjuangan bangsa saat menghadapi para penjajah, selain itu juga untuk mengenang setengah abad masa Kebangkitan Nasional.

Bentuk Museum Perjuangan ini yang terbilang unik menjadi salah satu daya tariknya, dengan memadukan model bangunan Eropa. Pada bagian atasnya kamu akan melihat gaya arsitektur zaman kekaisaran Romawi Kuno, sedangkan pada bagian bawah gedungnya mengadopsi bentuk Candi Mataram Hindu yang notabenenya paduan dari budaya lokal. Keunikan lainnya bisa terlihat dari bentuk bangunannya yang melingkar seperti slinder, juga terdapat relief-relief patung wajah-wajah pahlawan nasional pada bagian bawah atapnya.

Relief-relief itu memiliki makna dan artinya masing-masing, yang keseluruhannya menceritakan riwayat perjuangan Bangsa Indonesia. Di bagian atap gedung museum kamu akan melihat bentuk topi baja dengan 5 buah bambu runcing yang berdiri di atas bola dunia. Koleksi-koleksi yang ada di museum ini terbagi atas dua tata pameran, pameran yang pertama disajikan dengan konsep outdoor. Sedangkan pameran kedua memiliki konsep indoor, di dalamnya terdapat perlengkapan dan benda-benda bersejarah yang dipakai oleh pahlawan bangsa untuk merebut kemerdekaan, meriam, buku, dll.

Saat kamu memasuki museum ini, di bagian kiri dan kanan pintunya terdapat hiasan makara yang merupakan simbol tolak bala, dan di bagian depannya terdapat rrap yang berjumlah sebanyak 17 buah dan daun pintu masuk yang berjumlah 8 buah. Museum Perjuangan berlokasi di Jl.Kol. Sugiono No.24 Yogyakarta, kamu bisa mengunjunginya pada pukul 8 pagi hingga pukl 4 sore, di hari Senin-Kamis dan pukul 8 pagi hingga setengah 5 sore pada hari Jumat.

Mengenang Memorial Perjuangan Presiden RI ke-2 di Museum Soeharto

Yogyakarta memilik banyak opsi destinasi wisata yang beragam dan tentunya menarik untuk kamu kunjungi, salah satu jenis wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan adalah wisata edukasi, dan di Yogyakarta daerah yang terkenal akan wisata edukasinya ada di Kabupaten Bantul. Walaupun banyak juga di wisata-wisata alam yang menarik hati wisatawan, tapi wisata edukasi juga tak kalah pamornya. Salah satu wisata edukasi di Bantul yang sering dilirik oleh wisatawan, khususnya para pencinta sejarah atau sejarahwan adalah Museum Soeharto.

Didirikannya Museum Soeharto tujuan utamanya adalah untuk mengabadikan, mengenang serta menyimpan memoar dan peninggalan dari Presiden ke 2 Bangsa Indonesia ini. Memiliki luas sekitar 3.620 meter persegi, dan berisikan berbagai macam hal mengenai kehidupan Soeharto. Tujuan lainnya didirikan museum ini adalah untuk dijadikan inspirasi bagi siapa pun yang mengunjunginya, agar senantiasa berbuat yang terbaik demi bangsa. Museum ini mulai diresmikan pada 8 Juni 2013 oleh Probosutedjo, sekaligus menjadi pengingat bahwa di tanggal itu merupakan tanggal kelahiran Soeharto.

Museum Soeharto ini terletak di Jl. Nulis-Puluhan, Dusun Kemusuk, Ds. Argomulyo, Kec.Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Waktu tempuh untuk sampai ke lokasi ini sekitar 30 menit sampai 1 jam, lumayan jauh karena lokasinya yang berada di luar Kota Jogja. Museum ini menyimpan berbagai macam koleksi penting seputar kehidupan Soharto, saat kamu mengunjungi museum ini kamu akan mendapati sebuah pendopo yang memajang piranti multimedia yang isinya berupa foto-foto perjuangan Soeharto. Selain itu kamu juga bisa mendapati buku-buku elektronik mengenai kehidupan Soeharto, kalau kamu masuk lebih dalam lagi akan terpampang diorama yang memadukan konsep tradisional dan modern.

Museum Lukisan Terlengkap Ada di Museum Affandi

Daerah Istimewa Yoyakarta merupakan salah satu provinsi yang menyimpan sejarah berharga Bangsa Indonesia, sejarah-sejarah tersebut banyak tersimpan di dalam museum-museum maupun cagar-cagar budaya yang tersebar di berbagai daerahnya. Salah satu museum yang cukup bernilai dan memiliki sejarah penting yang menarik untuk kamu pelajari, terlebih khusus bagi kamu pencinta lukisan dan karya seni, adalah hal wajib untuk mengunjungi Museum Affandi. Museum ini berdiri di atas lahan yang luasnya sekitar 3.500 meter persegi, di dekat museumnya terdapat tempat tinggal seniman Affandi sendiri, namun kini tempat tersebut digunakan sebagai cafe untuk pengunjung-pengunjung yang datang.

Jika kamu mengunjungi museum ini, kamu dapat menemukan empat galeri di dalamya. Beberapa di antaranya yaitu, di galeri pertama terdapat karya-karya seni Affandi dari awal ia berkarir hingga karya terakhirnya, dari bentuknya yang klasik sampai modern, selain karya-karya seninya terdapat juga benda-benda pribadi miliknya, ada sepeda onthel, ember, sandal jepit, kliping berita, mobil sedan kuno dan masih banyak lagi.

Pada galeri kedua awalnya digunakan untuk memamerkan lukisan Affandi untuk dijual, dalam perkembangannya galeri ini juga digunakan sebagai ruang pameran koleksi karya pelukis lain, dan tempat-tempat galeri lainnya. Museum Affandi ini baru diresmikan oleh Prof Ida Bagus Mantra pada tahun 1974, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Kebudayaan Umum. Selain sebagai pelukis, sepanjang hidupnya Affandi mendedikasikan diri sebagai seorang penulis yang menganut aliran ekspresionisme atau abstarak.

Puas menikmati koleksi lukisan di dalam galeri, pengunjung bisa naik ke sebuah menara guna menyaksikan seluruh kompleks bangunan, aliran Sungai Gajah Wong, hingga hiruk pikuk kendaraan di Jalan Laksda Adisucipto. Jika ingin beristirahat dan menikmati minuman segar maupun kudapan, silahkan mampir ke Café Loteng.

Tiket masuk ke Museum Affandi ini sebesar 20 ribu rupiah, dan bagi kamu yang membawa kamera dikenakan biaya tambahan sebesar 20 ribu rupiah, sedangkan untuk kamera ponsel sebesar 10 ribu rupiah. Lokasi museum ini berada di Jl.Laksda Adisucipto 167, lokasi tepatnya terletak di ruas jalan utama yang menghubungkan Yogyakarta dan Solo.

Melestarikan Mainan Anak Tradisional di Museum Anak Kolong Tangga

Seiring kemajuan zaman dan tekhnologi, aneka mainan tradisional semakin menurun peminatnya dan tak sedikit pula mainan-mainan tersebut kian menghilang keberadaannya. Berangkat dari keprihatinan itu seorang berkebangsaan Belgia yang sudah lama menetap di Indonesia mendirikan museum untuk anak-anak, ia adalah Rudi Corens. Ya, anak-anak dan mainan seperti satu-kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Di Yogyakarta, terdapat sebuah museum khusus yang mengoleksi mainan-mainan tradisional, namanya Museum Anak Kolong Tangga.

Dinamakan Museum Anak Kolong Tangga karena letaknya berada di bawah kolong tangga concert hall Taman Budaya Yogyakarta. Di dalam museum ini terdapat lebih 10.000 koleksi yang terdiri dari buku cerita, mainan, gambar, poster dan masih banyak lagi lainnya. Daya tarik dari museum ini adalah mainan yang tersedia bukanlah mainan anak-anak hang dihasilkan dari buatan pabrik, melainkan kreatifitas buatan tangan yang di setiap model mainannya mengandung unsur budaya, tradisi, bahkan mitos-mitos jaman terdahulu.

Tempat ini sangat cocok untuk si kecilmu, saudara, lembaga atau komunitas anak-anak yang sedang kamu jalani. Beraneka ragam perlatan dan mainan yang tersedia di museum ini, beberapa di antaranya ada miniatur rumah-rumahan, mainan motor kayu, layang-layang, gasing yang berasal dari berbagai daerah bahkan negara, dll. O ya, museum ini merupakan museum anak-anak pertama yang ada di Indonesia, dan koleksi-koleksi yang tersedia pun bukan hanya yang berasal dari Indonesia melainkan juga dari benua-benua lain.

Lokasi museum ini berada di Kompleks TBY (Taman Budaya Yogyakarta), Jl Sriwedari No 2. Lokasi tersebut sangat dekat dari pusat kota Jogja, utamanya dari titik 0 Kilometer. Museum ini mulai dibuka pada pukul 09.00 sampai 13.00, di hari Selasa-Jumat, bagi pengunjung yang masih berusia di bawah 15 tahun tidak dikenakan biaya tiket masuk. Selain koleksi mainan, di Museum Anak Tangga ini juga biasa mengadakan workshop dan kegiatan seputar dunia anak. Bagi kamu yang datang rombongan minimal 15 orang bisa mengajukan workshop kepada pihak pengelola museum.

Museum Sandi Yogyakarta; Museum Teka-teki Satu-satunya Yang Ada di Indonesia

Jika kamu seorang yang gemar dan hobi memecahkan kode-kode rahasia, suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan kode unik, atau sekadar menyenanginya saja, Museum Sandi Yogyakarta adalah tempat yang tepat yang bisa kamu kunjungi. Museum ini tergolong satu-satunya di dunia yang mengoleksi benda-benda dan peralatan untuk mengirimkan pesan rahasia, dan juga tempat terekamnya sejarah persandian yang ada di Indonesia bahkan dunia. Menarik, bukan? Yakin tidak tertarik untuk mengunjunginya?

Koleksi-koleksi yang berkenaan seputar kode-kode rahasia itu di antaranya berupa buku kode telegraf, sandi, hingga berbagai mesin sandi buatan Indonesia maupun luar negeri. Mesin-mesin tersebut dulunya difungsikan untuk mengirimkan sinyal atau pesan penerangan ke sarang musuh tanpa terdeteksi olehnya. Perlu kamu ketahui, berkat benda-benda dan mesin-mesin itu pejuang Indonesia berhasil merebut kembali daerah yang dikuasai penjajah. Museum ini didirikan atas kerjasama Lembaga Sandi Negara dengan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia dan Yogyakarta.

Tidak hanya itu saja, di museum ini juga kamu bisa melihat gambar, diorama bahkan sepeda onthel tua yang pernah digunakan kurir untuk mengirimkan pesan ke prajurit Indonesia dan juga musuh. Bukan berarti tempat ini dipenuhi benda-benda kuno atau perlatan lawas, di sini juga sudah terfasilitasi dengan tekhnologi modern. Salah satunya adallah tekhnologi layar sentuh atau touchscreen, dengan tekhnologi ini kamu akan diajak bermain dan belajar untuk memecahkan kode dan sistem sandi secara interaktif.

Museum ini secara formal hanya dibukan pada hari senin hingga jumat saja, namun jika kamu ingin mengunjungi tempat ini pada hari sabtu atau minggu, museum ini bisa dibukakan dengan catatan kamu atau rombonganmu sudah melakukan konfirmasi kepada pihak pengelolanya terlebih dahulu. Yang menariknya, tempat ini tidak dipungut biaya retribusi apa pun loh. Museum Sandi Yogyakarta ini berlokasi di Jalan FM Noto, Kotabaru, Yogyakarta.

Ayunan Langit Watu Jaran; Sensasi Menegangkan Berayun Dari Ketinggian Tebing

Kalau kamu pernah mendengar tempat wisata Sky Wing Maribaya yang sedang ngehits itu, sejatinya Ayunan Langit Watu Jaran ini tak jauh berbeda dengannya. Kalau Sky Wing Maribaya itu letaknya di Bandung, sedangkan Ayunan Langit Watu Jaran ini ada di Yogyakarta. Wisata yang satu ini dijamin akan membuat nyalimu tertantang, karena ayunan ini berada di pinggir tebing yang jaraknya sangat jauh dari permukaan tanah, berani coba? Ya, Ayunan Langit Watu Jaran ini menawarkan sensasi ayunan yang sangat menegangkan.

Ayunannya dibangun tepat di pinggir jurang, kalau kamu berani, kamu akan dibawa ke tempat duduk di kursi ayunan lalu kamu akan diayunkan di atas jurang tersebut. Ngebayanginny aja udah ngeri-ngeri sedap, ya? Hehe. Bagi kamu yang memiliki trauma khusus ataupun phobia akan ketinggian, sangat amat disarankan untuk tidak mencoba wahana ini ya, tapi bagi kamu yang memiliki adrenalin yang cukup, tempat ini adalah opsi yang tepat untuk menguji seberapa kuat adrenalinmu.

Tentu Ayunan Watu Langit Jaran ini sudah dilengkapi dengan kemanan yang baik. Di antaranya yaitu ayunannya dibangun dari baja sehingga tahan korosi, beban yang dapat ditanggung pun tidak main-main loh, bisa menahan beban sampai 500 kg, selain itu sebelum kamu menaiki wahanan ini kamu pun diwajibkan untuk memakai seat harnest sebagai pengaman. Ditambah lagi, di tempat ini sudah didampingi langsung oleh tim SAR Yogyakarta, jadi keamanannya sudah sangat diperhitungkan ya, kamu tak perlu khawatir berlebihan.

O ya, bagi kamu yang takut dengan ketinggian tapi tetap ingin mengunjungi Ayunan Watu Langit Jaran, tenang saja kamu tetap bisa menikmati pemandangan yang sangat apik. Kamu bisa melihat pemandangan dengan latar Pegunungan Menoreh yang terkenal itu, berfoto ria di spot-spot cantik, atau menunggu datangnya senja yang anggun dari atas sini. Tiket masuk ke Ayunan Watu Langit Jaran ini yaitu sebesar 10 ribu rupiah, dan bagi kamu yang ingin merasakan wahana ayunannya dikenakan biaya sebesar 20 ribu rupiah.

Menikmati Keindahan Pantai Gunung Kidul dari Ketinggian Puncak Kosakora

Bukan suatu hal yang baru jika Gunung Kidul menyimpan pesona alam dengan keindahannya yang menawan, terutama wisata pantainya. Ada banyak wisata pantai yang tak terhitung banyaknya di Gunung Kidul, bukan sekadar banyak tapi juga memiliki ciri khas dan karakternya yang beragam nan eksotis, karenanya banyak yang menyebut Gunung Kidul adalah surganya alam pantai. Namun, dalam tulisan kali ini penulis tidak akan membahas pantai-pantai yang ada di Gunung Kidul, namun lebih kepada sesuatu yang menarik yang ada di salah satu pantainya. Sesuatu yang menarik yang dimaksud di sini adalah Puncak Kosakora, yang letaknya berada di Pantai Ngrumput.

Sebelumnya Pantai Ngrumput tidak seramai seperti sekarang, faktor yang menyebabkannya tidak dan tidak bukan adalah karena adanya Puncak Kosakora tersebut. Kalau kamu ingin mengunjungi Puncak Kosakora, kamu harus siap berjalan kaki/trekking sejauh kurang lebih 800 meter. Jalur yang kamu lewati pun akan dihadang dengan batuan karang yang tajam, turun naik bukit, jadi kamu diharuskan untuk berhati-hati, o ya kamu juga akan menyusuri ladang miliki warga setempat, jadi diharapkan untuk sama-sama menjalin komunikasi yang baik ya. Awalnya Puncak Kosakora ini dijadikan destinasi selingan saat wisatawan datang ke Pantai Ngrumput atau Pantai Drini, tapi karena keindahannya Puncak Kosakora ini dijadikan destinasi wisata utama juga.

Dari Puncak Kosakora ini, kamu dapat melihat keindahan alami yang cukup akan membuatmu terpukau, yakni bentang garis pantai-pantai yang ada di Gunung Kidul. Di sore hari kecantikan sunset yang tampak dibumbui dengan luasnya hamparan lautan, yang bisa kamu nikmati di sepanjang matamu memandang. Di puncak ini juga sering dijadikan tempat untuk melakukan aktifitas camping dan juga outbond, kamu juga tidak perlu repot-repot membawa peralatan camping yang mungkin agak ribet menurutmu, karena di sini pengelola sudah menyediakan peralatan camping serta kayu bakar bagi kamu yang ingin membuat api unggun. Tapi harus dicatat baik-baik ya, kebersihan serta ketertiban yang sudah dijaga dengan baik di sini, jangan sampai kamu sendiri yang malah menjadi perusak alamnya ya.

Air Terjun Kedung Kandang; Air Terjun Berbentuk Terasering

Air Terjun Kedung Kandang di Yogyakarta, merupakan salah satu wisata air terjun yang menarik untuk kamu kunjungi, ya, kota yang terkenal akan keragaman budayanya ini seolah tak pernah bosan menyuguhkan destinasi-destinasi wisata cantik, yang mampu membuat setiap pengunjung merasa ingin mendatanginya untuk yang kesekian kalinya. Bisa dikatakan bahwa Air Terjun Kendung Kandang ini adalah salah satu air terjun terunik yang dimiliki Yogyakarta, pasalnya air terjun ini berada pada gugusan tebing batu dan persawahan yang berundak. Banyak yang menyebutnya mirip dengan air terjun di Ubud, Bali, salah satu alasannya yaitu air terjunnya sama-sama membentuk terasering.

Untuk menikmati keindahan air terjunnya yang menjanjikan ini, kamu harus melewati perjalanan kaki sejauh kurang lebih 900 meter, dengan rute dan medannya yang turun naik bukit. Tapi tenang saja, lelahmu akan dibayar lunas saat kali pertama matamu memandang ke area lokasi, selain itu di sepanjang perjalanannya juga kamu tak perlu khawatir merasa bosan karena akan disuguhkan pemandangan persawahan hijau, merdunya kicauan burung hingga gemericik suara airnya yang membikin hatimu hangat. Perjalanan sejauh 900 meter itu pun seolah tidak terasa sama sekali.

Dikarenakan Air Terjun Kedung Kandang ini membentuk terasering persawahan, saat yang tepat bagi kamu mengunjunginya adalah ketika masuk musim penghujan. Walaupun airnya masih tetap ada dan bisa kamu jumpai, tapi debit arinya sedikit bahkan terkadang tidak ada airnya sama sekali. Jika kamu mengunjunginya saat debit airnya deras, keindahan sempurna pun bisa kamu temui, apalagi jika kamu datang saat tanaman padinya sedang hijau-hijaunya, maka kamu termasuk golongan pengunjung yang beruntung. Air Terjun Kedung Kandang sendiri memiliki 6 tingkatan air, kamu bisa membayangkan sendiri bagaimana rupa kecantikannya.

Mengunjungi tempat ini disarankan untuk berhati-hati, karena kondisi jalur trekkingnya sangat licin apalagi saat musim penghujan, ditambah lagi medannya yang naik turun bukit dan juga banyak bebatuan yang cukup terjal. Selama perjalanan menuju lokasi air terjun ini, kamu akan dipertemukan dengan aktifitas para petani di ladang sawahnya, dan tentu keramahan dan kehangatan sikap dari warga setempat adalah suatu kepastian yang akan kamu temukan di sini.

Candi Sambisari; Candi Unik di Bawah Tanah

Daerah Istimewa Yogyakarta tidak bisa terlepas dari destinasi-destinasi wisata berupa candi, bagi sebagian orang khususnya wisatawan, mengunjungi candi-candi tertentu merupakan kepuasan tersendiri karena nilai dan sejarahnya yang tinggi. Tapi tidak sedikit juga bagi sebagian orang yang menganggap berlibur ke candi adalah aktifitas yang membosankan, apalagi jika berbicara Yogyakarta, destinasi yang menyuguhkan suasana candi identik dengan Candi Borobudur atau Candi Prambanan.

Sebenarnya banyak candi-candi lainnya di kota gudeg ini, yang belum banyak kamu dengar keunikan dan daya tariknya. Salah satunya adalah Candi Sambisari, candi ini bisa kamu jadikan sebagai tempat wisata cagarbudaya alternatif, saat kamu bingung memutuskan candi mana yang hendak kamu kunjungi lagi di Yogyakarta.

Beberapa daya tarik yang dimiliki Candi Sambisari dengan candi-candi lain yang ada di Yogyakarta adalah, letak candinya yang berada lebih rendah di bawah permukaan tanah alias menjorok ke bawah sekitar 5-6 meter. Saat kamu mengunjungi candi ini pun kamu harus menuruni anak tangga yang tersusun rapih yang jumlahnya mencapai puluhan, konon, Candi Sambisari ini menjadi salah satu candi terbesar yang dimiliki Yogyakarta.

Jika kamu bertanya-tanya bagaimana awal mula candi ini dibangun atau bagi kamu yang menyimpan pertanyaan, mengapa Candi Sambisari berada di bawah permukaan tanah, jawabannya yaitu berkat seorang petani. Ya, petani itu bernama Karyowinangun yang kala itu sedang mencangkul di sawah, alih-alih ingin menggarap lahan sawah cangkulnya malah batu keras yang memiliki ukiran dipermukaannya. Mulai dari situ, dilakukanlah penelitian, pemugaran tempat sampai dilakukannya evakuasi area. Hampir 20 tahun dari proses-proses itu dijalani hingga akhirnya kini Candi Sambisari resmi dijadikan destinasi wisata.

Dari Candi Sambisari ini kamu bisa mengabadikan keindahan kawasan candi atau rupa candinya sendiri, dengan pemandangannya yang cukup apik ditambah dengan kerapian kawasannya yang terjaga bisa membuatmu betah untuk berlama-lama di sini. Kamu juga bisa menelusuri lebih detail hingga ke bawah bangunan Candi Sambisari, menikmati serta mempelajari kesejarahannya.

Bukit Pengilon; Surga Tersembunyi di Gunung Kidul

Bukit Pengilon menjadi salah satu destinasi wisata terbaik yang dimiliki oleh Gunung Kidul, jika kamu tahu atau sekadar pernah mendengar Pualu Jeju yang terkenal itu yang letaknya ada di Korea Selatan, kamu tak perlu jauh-jauh untuk mendapatkan pemandangan serta keindahan yang tak kalah serupa dengannya. Namanya adalah Bukit Pengilon, wisata ini menawarkanmu sensasi perbukitan yang berada tepat di bibir pantai. Soal keindahannya? Tak perlu diragukan deh pokoknya.

Berbeda dengan pantai-pantai yang ada di Gunung Kidul, yang kebanyakan berpasir putih dengan ditumbuhi pohon-pohon khas pantai. Bukit Pengilon adalah sebuah perbukitan dengan rerumputan yang menghampar luas, yang keberadaannya terletak di garis pantai selatan. Satu kelebihan dari pantai ini yaitu walaupun cuaca sedang dalam keadaann terik yang mengengat, kamu tetap bisa merasakan angin sepoi-sepoi di mana kesejukan anginnya dapat membantu meminimalisir terik cahaya matahari.

Dari atas Bukit Pengilon ini kamu akan disuguhkan pemandangan yang luar biasa, seperti pemandangan alam pantai kawasan Gunung Kidul, atau saat kamu mengarahkan pandangan ke arah barat kamu akan melihat pesona Pantai Banyu Nibo dan Pantai Siung. Sedangkan di arah timurnya, kamu bisa memandang dengan leluasa keindahan alam Pantai Wedi Ombo dan Pantai Watu Lumbung. Sejak kemunculannya di tahun 2012, Bukit Pengilon ini dengan cepat telah mendapatkan perhatian dari para wisatawan, hinggi kini pun lokasi ini tergolong ramai dikunjungi.

Dari area Bukit Pengilon ini juga kamu bisa melihat pemandangan hamparan birunya Samudera Hindia yang menghampar luas, pemandanganmu tidak akan terganggu karena di tempat ini tumbuhan-tumbuhan tinggi atau pepohonan terbilang minim. Kamu akan merasakan sensasi ketenangan yang mendamaikan di sini. Di pantai ini juga biasa digunakan oleh para wisatawan untuk berkemah, karena lokasinya sangat cocok serta mendukung. Untuk menuju ke Bukit Pengilon ini, kamu harus menuju ke daerah Wonosari, lokasinya yang menjorok ke arah timur dan mendekati perbatasan antara Yogya dengan Wonogiri, membuatnya terasa lumayan jauh jika kamu yang datang dari arah Kota Yogyakarta.